Gordon Ramsay: A Straightforward Restauranteur With a Magnificent Passion for Cooking

“Put your head down and work hard. Never wait for things to happen, make them happen for yourself through hard work and not giving up.”  – Gordon Ramsay

GR MGPW

Gordon James Ramsay atau lebih dikenal sebagai Gordon Ramsay lahir pada tahun 1966 di Johnstone, Skotlandia. Selain dikenal sebagai celebrity chef yang membintangi beberapa acara televisi, beliau juga merupakan pemilik dari The Gordon Ramsay Group, sebuah perusahaan yang membawahi 35 restoran fine dining di seluruh dunia dimana 7 di antaranya berhasil meraih Michelin Star, penghargaan paling prestisius di industri restoran.

Pada awal Gordon Ramsay mulai merintis “Gordon Ramsay Restaurants”, beliau berencana untuk fokus pada fine dining, namun seiring berjalannya waktu, usaha tersebut mengalami pergantian konsep menuju casual fine dining, seperti yang terlihat pada restoran Bread Street Kitchen, Maze, Petrus, dan Union Street Café. Hal ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan guest experience yang lebih bervariasi. Dengan menerapkan konsep tersebut, Restaurant Gordon Ramsay berhasil berkembang di beberapa negara di dunia mulai dari Amerika hingga Timur Tengah. Sekarang, pengunjung Gordon Ramsay Restaurants merupakan mereka yang telah mengenal sosok Gordon Ramsay dan ingin merasakan sebuah dining experience yang berkualitas tinggi dan bersifat modern di restoran yang didirikan oleh seorang celebrity chef yang telah meraih beberapa penghargaan dan mendapatkan pengakuan internasional.

logos_GRG-ddd4032d069b0fb556e170ee817528e8e09a2f1bd0663bb1d02cdf787230aedd.jpg

Saat hendak membuat usahanya tersebut, beliau sempat berkenalan dengan dua pebisnis dari Italia, dan ia melihat peluang untuk membuka restorannya sendiri melalui pertemuan tersebut, dan menandatangani perjanjian bisnis dengan mereka. Selanjutnya, ia membuat sebuah restoran bernama Aubergine, yang berhasil mendapatkan 3 Michelin Stars. Namun seiring berjalannya waktu, Gordon Ramsay dan kedua orang tersebut memiliki perbedaan pendapat mengenai masa depan dari Aubergine, dan beliau memutuskan untuk berhenti bekerja sama dengan mereka dan membuka restorannya sendiri.

Suatu situasi yang dia lihat adalah jika seseorang pergi ke restoran, mereka mengeluarkan banyak biaya, dan beliau ingin menciptakan sebuah pengalaman yang tidak terlupakan saat pelanggannya mengunjungi restorannya. Selain itu, ia ingin memastikan bahwa pelanggannya ingin kembali untuk makan di restorannya berkali-kali. Caranya untuk melakukan hal tersebut adalah menjadi perfeksionis, dimana beliau menetapkan standar tertentu di setiap restorannya dan memastikan bahwa setiap hidangan yang dikeluarkan dari dapur memenuhi standar tersebut. Hal yang menjadi keunikan dari Restaurant Gordon Ramsay adalah penerapan konsep casual fine dining, dimana pelanggan bisa menikmati hidangan dalam waktu yang lebih cepat tanpa menurunkan kualitas hidangan tersebut. Selain itu, hidangan yang disediakan merupakan makanan dan minuman yang telah dikenal oleh masyarakat. Gordon Ramsay sendiri mengakui bahwa rahasianya untuk mencapai kesuksesan adalah dengan cara “not take anything for granted” dengan selalu berusaha untuk memberikan servis yang berkualitas tinggi setiap kali pada pelanggannya. Dalam bisnisnya, Gordon Ramsay menerapkan psychographic segmentation, dimana ia membagi pasar menggunakan gaya hidup seseorang. Orang-orang yang datang ke restorannya adalah mereka yang ingin mencari dining experience yang baru.

intro-1524159587

Selain menerapkan sistem casual fine dining di restorannya, Gordon Ramsay juga panda dalam hal memanfaatkan sumber daya yang dimiliki. Di umur 19 tahun, beliau mendaftarkan diri di Oxfordshire Technical College dan mengambil jurusan Hotel Management. Setelah lulus, Gordon Ramsay membawa apa yang beliau pelajari saat kuliah dan pergi ke Prancis. Disana, beliau  bekerja untuk Marco Pierre White di restorannya yang bernama Harvey’s untuk mempelajari tentang French cuisine. Setelah bekerja disana selama 3 tahun, Marco Pierre White menyarankan agar Gordon Ramsay bekerja untuk Albert Roux, di restorannya yang bernama Le Gavroche. Setelah bekerja disana selama setahun, Albert Roux mengajaknya untuk bekerja di sebuah ski resort di French Alps. 3 tahun kemudian, Gordon Ramsay bertemu chef lain, yaitu Guy Savoy, dimana ia ditawarkan sebuah pekerjaan di Bermuda. Saat ia kembali ke London pada tahun 1993, Marco Pierre White menawarkan posisi head chef kepada Gordon Ramsay bersama dengan 10% saham di salah satu restorannya, Aubergine. Dibawah pimpinan beliau, restoran tersebut berhasil meraih Michelin Star.

Sebelum menjadi salah satu celebrity chef yang sangat dikenal oleh masyarakat, Gordon Ramsay sempat melalui proses yang panjang menuju kesuksesan. Saat beliau dihadapkan dengan kegagalan dalam merintis sebuah karier dalam bidang sepakbola dikarenakan cedera lutut yang dialaminya, beliau mengalihkan fokusnya untuk merintis karier dalam bidang memasak. Tujuan yang ingin dicapainya adalah membuat restoran sendiri yang dapat meraih Michelin star. Untuk mencapai tujuan tersebut, beliau harus berlatih dengan orang-orang yang ahli di dalam bidang kuliner.

l_12623_marco-gordon.jpg

Dengan keahlian, pengetahuan dan network yang ia peroleh saat ia bekerja untuk chef lain, ia membuka bisnisnya sendiri. Karena pada saat itu nama Gordon Ramsay belum dikenal oleh publik, resiko untuk gagal masih cukup besar. Tetapi, hal tersebut tidak membuat beliau menyerah. Beliau memutuskan untuk menjual apartemennya dan meminjam uang kepada mertuannya untuk membiayai restoran yang akan dibuatnya. Setelah membuka restoran pertamanya yang bernama “Gordon Ramsay” yang terletak di Chelsea, Inggris. 3 tahun setelah restoran tersebut beroperasi, beliau mendapatkan Michelin star.

Sebuah bisnis pasti pernah mengalami masa yang sulit. Jika dilihat dari karir Gordon Ramsay, beliau berhasil membuka 49 restoran, tetapi 23 di antaranya telah tutup. Kegagalan pertama Gordon Ramsay adalah di restorannya yang bernama Amaryllis, yang mengalami kerugian sebesar $480.000 pada 3 tahun pertama operasinya. Selain itu pada Agustus 2008, dilaporkan bahwa 6 restoran terbarunya pada masa itu mengalami combined losses sebesar 4.3 juta pounds. Namun, kerugian terbesar yang ia alami adalah saat ia menjadi partner bisnis di restoran Lauriel, Montreal, Kanada pada tahun 2011. Di restoran tersebut, beliau seharusnya menjadi partner, tetapi karena beliau tidak melakukan investasi, beliau dianggap sebagai konsultan disana. Tetapi, meskipun Gordon Ramsay tidak berkontribusi pada restoran tersebut, beliau masih meminta beberapa item di dalam menu mereka untuk dihilangkan. Akibatnya adalah 6 bulan kemudian, nama Gordon Ramsay dihilangkan dari Lauriel, yang akhirnya tutup pada bulan April tahun 2013. Kegagalan berikutnya yang dialami dikarenakan over-expansion, dimana beliau membuka beberapa restoran sekaligus. Akibatnya adalah holdings company yang dimilikinya (Gordon Ramsay Holdings) kesusahan untuk melunasi utangnya pada Royal Bank of Scotland yang berjumlah 10 juta pounds. Pada masa-masa sulit tersebut, auditor sempat menyarankan Ramsay untuk mengajukan pernyataan kebangkrutan.

Untungnya saat menghadapi keadaan tersebut, Gordon Ramsay tidak menyerah begitu saja. Beliau dan mertuanya yang merupakan pimpinan dari Gordon Ramsay Holdings memutuskan untuk mengatur kembali utangnya. Selain itu, ia mengambil beberapa langkah untuk memperbaiki bisnisnya. Langkah pertama adalah pergantian model bisnis dari ownership menjadi licensing, berikutnya ia menjual restoran-restoran yang menurutnya tidak bisa mendatangkan keuntungan (unprofitable) dan ia mengurangi biaya dengan cara memberhentikan beberapa karyawan dan menghilangkan beberapa menu yang terlalu mahal. Juga pada saat itu, Gordon Ramsay mulai dikenal di dunia hiburan, dan dari TV program yang dibintanginya, ia mendapatkan pendapatan sebesar $225.000 dari setiap episode. Pada tahun 2013, dilaporkan bahwa beliau menghasilkan uang sebesar $22.6 juta dari media deals yang didapatnya. Dengan biaya tersebut, serta rencana yang dibuat untuk memperbaiki bisnisnya, Gordon Ramsay berhasil mencapai kesuksesan di dalam bisnisnya di bidang restoran.

Selain membutuhkan kemampuan untuk menemukan peluang dan mengkalkulasi resiko, seorang entrepreneur juga memerlukan skill networking. Dalam menjalankan bisnisnya, Gordon Ramsay perlu membangun networking yang baik dengan orang-orang yang bergerak di bidang yang sama dengannya. Hal ini dilakukan olehnya mulai dari awal kariernya, dimana beliau mendapatkan kesempatan untuk belajar dari beberapa mentor seperti Marco Pierre White, Albert Roux, dan Guy Savoy. Dari pengalaman mentoring tersebut, beliau mempelajari bagaimana caranya untuk menjalankan sebuah restoran fine dining, bagaimana teknik memasak yang benar, dan skills yang diperlukan seorang chef dalam menjalankan bisnisnya. Beliau berkata, “if you want to become a great, chef, you have to work with great chefs, and that’s exactly what I did”.  Melalui pengalaman tersebut, beliau bisa mulai membangun networking skills yang diperlukan di dalam karirnya.

Selain mempelajari bagaimana caranya untuk mendirikan sebuah restoran, Gordon Ramsay juga menemukan peluang dalam bidang media, yaitu dengan memproduksi beberapa acara TV. Acara pertamanya adalah “Boiling Point”, yang pertama kali tayang pada tahun 1998. Di dalam acara tersebut, sifat yang nantinya menjadi keunikan darinya mulai tampak, yaitu berbicara kasar. Meskipun hal tersebut bukanlah sifat yang positif, hal tersebut berkembang menjadi keunikan dari Gordon Ramsay. Setelah acara tersebut berhasil, beliau membuat acara TV lainnya seperti Faking it (2001), Kitchen Nightmares (2004-2007), Hell’s Kitchen UK dan US (2007-2010), Masterchef US (2010-), Gordon’s Great Escape (2010), dan The F- Word (2005-) Dalam karir televisinya, Gordon Ramsay membangun networking yang sangat penting, yaitu dengan Fox Channel dan One Potato Two Potato, perusahaan stasiun televisi yang memiliki peran yang penting dalam membangun brand “Gordon Ramsay”. Membintangi berbagai acara TV tersebut digunakan sebagai marketing strategy oleh Gordon Ramsay, dan selain memperoleh pendapatan untuk membantunya dalam mengembangkan restorannya di seluruh dunia, beliau juga menarik perhatian penonton untuk mencari tahu tentang beliau dan bisnis yang dimilikinya. Alhasil, setelah menjalankan karir dalam bidang kuliner dan TV, beliau menjadi salah satu celebrity chef yang dikenal oleh seluruh dunia.

 

Melalui acara TV itu juga beliau bisa mengenal aspring chefs yang ingin menjalankan bisnis dalam bidang kuliner sepertinya, dan di acara-acara seperti Masterchef dan Hell’s Kitchen, beliau berkesempatan untuk menjadi mentor mereka dan mengajarkan mengenai dunia kuliner kepada mereka. Dengan bantuan acara TV itu juga tempat dimana beliau menemukan head chef restorannya yang bernama BurGR Las Vegas. Head Chef tersebut bernama Christina Wilson, yang merupakan salah satu kontestan di acara Hell’s Kitchen yang diproduksi oleh Gordon Ramsay. Berdasarkan cerita tersebut, bisa dibilang bahwa Gordon Ramsay memiliki networking skills yang baik, karena beliau dapat membangun network dengan chef yang memiliki pengalaman lebih banyak dibandingkan dirinya dan juga dengan aspiring chefs yang ada di sekitarnya. Beliau bisa melihat siapa saja yang bergerak di bidang kuliner sepertinya, dan bisa belajar dari mereka tentang bagaimana bisa menjadi business owner dan chef yang lebih baik lagi.

ChefGordonRamsaya_1517078685807-30-HR.jpg

Alasan mengapa saya memilih Gordon Ramsay sebagai tokoh hero challenge saya adalah karena saya ingin menjalankan bisnis dalam bidang kuliner pada waktu yang akan datang, dan beliau merupakan salah satu role model saya dalam bidang tersebut. Sifat-sifat yang saya sukai dari beliau adalah kemampuannya untuk melihat peluang untuk mengembangkan bisnisnya, sifat pantang menyerah saat suatu masalah datang, kemauan untuk terus belajar dari orang lain yang bergerak di dalam bisnis yang sama,  kemampuannya untuk mengembangkan inovasi yang bisa menarik perhatian konsumernya dan membangun networking yang bisa digunakan sebagai marketing strategy yang menguntungkan bagi perkembangan bisnisnya. Menurut saya, aspek-aspek tersebut merupakan alasan mengapa saya menganggap  Gordon Ramsay sebagai salah satu role model saya.

Melalui tugas ini, saya juga mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai 4 entrepreneurship values yang saya sebutkan di atas, dan menurut saya hal yang saya bisa lakukan untuk mengembangkan diri saya untuk menjadi entrepreneur yang menerapkan values tersebut adalah melalui tugas dan aktivitas yang saya lakukan di universitas. Contohnya adalah saat sebuah masalah terjadi selama proses pembuatan tugas saya, saya berusaha untuk tidak menyerah sebelum menemukan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut, membangun networking yang baik dengan cara ikut di berbagai komunitas mahasiswa untuk mempelajari cara untuk membangun relasi yang baik dengan mahasiswa lainnya, memaksimalkan kreativitas saya untuk membuat sebuah ide yang inovatif saat mengerjakan sebuah proyek, membuat sebuah rencana dengan memperhitungkan berbagai aspek secara detil sebelum memulai sebuah proyek, dan mengembangkan kemampuan untuk melihat peluang yang akan menguntungkan bagi saya. Saya harap dengan melakukan demikian, saya mampu menerapkan 4 entrepreneurship values tersebut.

 

 

Sumber:

Bimbaum, Debra. 2014. How Gordon Ramsay Built His Name into a Billion Dollar Brand.

https://variety.com/2014/tv/spotlight/how-gordon-ramsay-built-his-name-into-a-billion-dollar-brand-1201340276/amp/

Diakses pada tanggal 19 Agustus 2018

Conors, Christopher. 2016. The Formula That Leads to Wild Success- Part 7: Gordon Ramsay.

https://medium.com/the-mission/the-formula-that-leads-to-wild-success-part-7-gordon-ramsay

Diakses pada tanggal 21 Agustus 2018

CooksInfo, 2018. Biographies: Gordon Ramsay.

https://www.cooksinfo.com/gordon-ramsay

Diakses pada tanggal 19 Agustus 2018

Forgrieve, Janet. 2018. The rise of fine-casual dining.

https://www.smartbrief.com/original/2018/03/rise-fine-casual-dining

Diakses pada tanggal 21 Agustus 2018

Garfield, Simon. 2010. Gordon Ramsay: ‘I was a crazy psycho’.

https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2010/mar/14/gordon-ramsay-petrus-interview

Diakses pada tanggal 19 Agustus 2018

Gordon Ramsay Group. 2018. About Gordon.

https://www.gordonramsay.com/gr/about-gordon/

Diakses pada tanggal 15 Agustus 2018

Gordon Ramsay Restaurants. 2018. Our History.

https://www.gordonramsayrestaurants.com/careers/about/

Diakses pada tanggal 18 Agustus 2018

Gordon Ramsay Group. 2018. About Gordon.

https://www.gordonramsay.com/gr/about-gordon/

Diakses pada tanggal 15 Agustus 2018

Myers, Dan. 2013. 7 Superstar Chefs and Their Biggest Failures.

https://www.thedailymeal.com/7-superstar-chefs-and-their-biggest-failures

Rainey, Clint dan Hugh Merwin. 2014. Gordon Ramsay Has Opened 49 Restaurants in His Career- and Seen 23 Close.

https://www.grubstreet.com/2014/10/gordon-ramsay-restaurants-closure-rates.html

Diakses pada tanggal 21 Agustus 2018

Sharma, Rakesh. 2014. How Gordon Ramsay Built His Restaurant Empire.

https://www.investopedia.com/articles/investing/101915/how-gordon-ramsay-built-his-restaurant-empire.asp

Diakses pada tanggal 19 Agustus 2018

TheFamousPeople.com. 2017. Gordon Ramsay Biography. https://www.thefamouspeople.com/profiles/gordon-james-ramsay-1534.php

Diakses pada tanggal 18 Agustus 2018

The Observer. 2010. A Gordon Ramsay Timeline. https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2010/mar/14/gordon-ramsay-timeline

Diakses pada tanggal 18 Agustus 2018

 

 

Dear readers, I hope that this post can give you an insight on the life of Gordon Ramsay, apart from his foul-mouthed persona. Also, I want to know what you think about this post, so feel free to leave a comment down below 🙂

Warmest regards, Felicia Alexandra

Advertisements

A Clean Slate

 

Processed with VSCO with  preset

 

It’s been a while since I wrote something here, and throughout this 3 month period, so many changes have taken place in my life. Among those changes, the biggest one has got to be the shift from being a high school student in my hometown to a university student in another city.

Moving to a new place for the first time in my life is something I fear for a while, and as time goes by, that fear had developed into something that haunts me continuously, even when I sleep at night. Based on that experience, it’s safe that in the couple weeks prior to my moving day, my mental condition wasn’t in the most pleasant state. I doubted myself whether I could survive in that city,  did I make the right decision regarding the university and major that I chose, and so forth.

The reason why this process was a difficult one for me is because change is not something I am fond of. Though it may sound too idealistic, I wanted things to remain the same, like how it was a few years ago. That way of thinking affected me enormously, and I was always scared to make risky decisions in my life and developed a fear of change. I didn’t think much of it before, because I was happy with the ‘low-risk’ life I chose to live. I was surrounded by my family, I had friends whom I’ve known for 12 years at school, and I was used to the situation around me. The realization that after graduation these things would change made me feel lost for the first time in a while, and I didn’t know how to cope with those doubtful feelings. When all things failed, I chose to deal with it by crying. Unsurprisingly, it didn’t help at all; it just made me weaker.

At that time, I didn’t think I would conquer those fears and prove them wrong, until a major turning point occurred. One time I heard from someone that the first step of healing is opening up, and that’s exactly what I decided to do. Rather than keeping this conflict to myself, I chose to talk with my close friends and family, because they are the ones I can trust to help me find a solution for my problem. As it turns out, they came through. They listened to my problems, and gave me a bunch of advice to help me find the solution to it. I was deeply touched by the endless support given by them, either through chats or through the conversations we had. A close friend of mine even filled our chat room with motivational words that almost made me shed a tear as I read the messages. Having a very strong support system around me actually made me look at the situation in a whole new perspective.

No longer did I question myself whether I made the right decision by moving. Instead, I changed it into “What opportunities await me by moving to another city”. As I was thinking about it, I realized something. Going to a new place gives me a chance to fix what I did wrong in the past, and start my university life with a clean slate.

Going to a university in another city also provided me with the chance to meet new people and improve my networking skills. As an introvert who is socially awkward, it’s not easy for me to get to know new people, and i tend to be self-conscious whenever I start a conversation with people I just met. That being said, I fear that I won’t be able to make new friends in my university. Thankfully, the reality proved me wrong, and when I got into the university, I met so many amazing people, who are unique in their own way. One of them even encouraged me to start writing here again.

I also wanted to change how I manage my academic life. Back in high school, I didn’t take my assignments seriously, and I procrastinate a lot. I don’t want to do it anymore now that I’m in college, and I am responsible for my own grades and how I manage my time to finish my work. , Even though it’s tough for me to study harder, considering the fact that I’m a lazy person. I realized that with the habit I have right now, it would be hard for me to pass my classes, and I don’t want to fail in any of those classes. Also, I want to be satisfied with the results I get, something that I haven’t been able to do before.

It’s safe to say that in the 3 months I’ve been in this university, I saw many changes happening, and those fears that I had a few months ago proved to be wrong, at least for now. I experienced many changes in the way I live,  the way I interact with people, and how I attempt to change my academic habits. Since the first day of college, I decided that I want to become someone who is more open to others, become more organized, and is able to survive on my own. Right now, I’m not quite there yet, but I hope that one day I can completely get rid of the fears I have at the moment and become someone who is able to conquer the challenges I face on a daily basis.

 

I know that something has changed; it never felt this way before. Right now, this could be the start of something new

Showing Our True Colors

What comes to mind when you hear the word “different”?

That one particular word Is commonly used by us in our everyday life, but each of us may have our own ways to interpret the meaning of the word. Nevertheless, it is very likely for us to agree on one thing; the word “different” means that something is not the same.

One thing that I’ve noticed recently is that there are many words in the English dictionary that we can use to describe something that is “not the same”, and among them is the word “unique”. Interestingly enough, I feel that in our society today, being different doesn’t mean that you are unique; instead, it’s something that you should refrain from doing. Being different became synonymous to a negative behavior that would make you the least likeable out of everyone in the room, and it’s going to make society turn their back against you. If you follow how society works however, and live based on the set of rules they make, you will be accepted with open arms. Being different is considered taboo; even though initially, the word does contain a negative connotation at all. People then proceed to develop the fear of being different and chose to wear a mask to conceal their true self. They chose to be one of the crowd, rather than being the one who stands out. A life of mediocrity awaits them, because they fear that once they take off their masks and become who they truly are, no one is going to care about them, and they would become an outcast.

Lately, I have noticed that some teenagers fear of being different, and they tend to follow how their friends want them to act rather than staying true to themselves. They did not choose how to live their own life, but they let others control how they should look like and how they should act. They have very little control over their life, and it’s a gruesome view. They might look happy outside, because they are accepted by society and they fulfill expectations society has over them, but I doubt that they feel the same way inside, because I believe that no one can be happy if they are not being themselves. They became a people-pleaser, while their true personality slowly fades; all for the sake of becoming an ‘ideal individual’ for society. It is madness, to put it simply.

Personally speaking, I believe that every person is beautiful in their own way, and no one is created the same. Each person has their own outlook on life, their own opinions, and their own beliefs. It’s what makes us who we are, and no one can take full control of how we should live our life, let alone change our true selves for the sake of being accepted by society. Furthermore, I believe that the people who have the courage to be their unique selves, and never let society decide who they should be, are the people that will bring a positive impact to society and leave a meaningful legacy behind.

I hope that as time goes by, people will not fear to be different than others around them, and be the first of many to accomplish amazing things that most people would fear of doing, because being different is not wrong, and it should not be considered as a terrible behavior that would have negative effects in our life. I believe that being different means that we have the courage to show our true selves to people around us, and I am certain that when we find those who accept who we are, and we don’t fear to be our true selves when we are around them, are the people that we should hold on to, because we should surround ourselves with people that bring out best version of ourselves, and encourage us to show our true colors.

My message to whoever reads this is to never forget that being different is not wrong; instead, it is what makes each person unique, and beautiful in their own way.